About Me

Search

Memuat...
Minggu, 31 Januari 2010

Sembuhkan Orang-orang Gila

''PAK Ustad, aku meh balik umah wae. Aku meh entuk hadiah saking presiden. Nek ora balik saiki, mangke hadiahe boten sida. Aku meh balik umah, aku meh balik...,'' teriak seorang ibu dengan suara keras dan memelas.

Teriakan wanita setengah baya dengan pakaian biru muda dan berkerudung putih itu tentu mengagetkan beberapa orang yang sedang bertamu di Pondok Pesantren (Ponpes) Hidayatul Quran Demak.

Sebab, begitu muncul dari bilik rumah pengasuh pondok itu dia langsung berteriak dengan kata-kata yang tak jelas arahnya.

Namun, kekagetan itu hanya sebentar karena mereka menyadari bahwa wanita tersebut adalah pasien sakit jiwa yang sedang dirawat di pondok tersebut yang terletak di Dukuh Ngepreh, Desa Sayung Kecamatan Sayung, Demak.

Meski sempat memegang tangan seorang tamu, begitu kepalanya dipegang ustad Nur Fathoni Zen, pengasuh pondok tersebut, wanita itu pun tak lagi berteriak. Ketika diperintah segera masuk rumah, wanita itu pun langsung mengikuti perintah sang ustad.

''Itu tadi pasien yang cukup parah. Baru tiga hari di sini, ya mudah-mudahan lekas sembuh dan kembali normal,'' ucap ustad menerangkan kepada tamunya, termasuk kepada Suara Merdeka.

Pondok yang didirikan sejak tahun 1996 itu belakangan cukup dikenal masyarakat dari berbagai daerah. Pasalnya, selain menaungi pendidikan pesantren, pondok itu juga mengelola Yayasan Nurussalam. Yayasan itu membidangi panti rehabilitasi cacat mental dan sakit jiwa.

Sedikitnya ada 30 pasien sakit jiwa dan cacat mental yang masih berada di pondok tersebut, sedangkan jumlah santrinya 50 orang.

Pesantren salafiyah itu juga membuka lembaga pendidikan formal, yaitu TK Islam dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam.

Bangunan pesantren tampak apa adanya. Sebagian besar bangunannya berupa dinding kayu lempengan dengan fondasi batu bata yang belum dilapisi semen. Kondisi demikian terkesan sebagai pondok pesantren yang berada dalam keterbatasan.

''Ya, begini ini kondisinya. Kami memanfaatkan apa adanya. Meski fasilitasnya serbakurang, kami harus berusaha maksimal menangani pasien.''